Home

Main Menu
Program Studi
Tautan
Alamat
Address:
Jl. Ganesha No. 10
Labtek III, Lantai IV
Bandung
Jawa Barat
Indonesia

Telephone: +62-22-2511576
Fax: +62-22-2509170

Kolokium BIMA
Wednesday, 30 April 2014 06:06

Kolokium:

“Eclipsing Binaries’ Minima (BIMA) Monitoring Project: Present and Future”

Presenter

Saeful Akhyar, S.Si.


 

Jumat (25/4) kembali diadakan kolokium di ruang Seminar 2 Program Studi Astronomi. Kolokium BIMA Monitoring Project oleh tim BIMA dibawakan oleh Saeful Akhyar, S.Si., salah satu anggota tim BIMA yang juga lulusan Program Sarjana Astronomi tahun lalu. BIMA Monitoring Project merupakan riset pengamatan bintang ganda gerhana. Riset ini diinisiasi di Observatorium Bosscha pada pertengahan tahun 2012 dan enam bulan kemudian National Astronomical Research Institute of Thailand (NARIT) bergabung dalam riset ini. Adapun tim BIMA Indonesia terdiri dari mahasiwa, lulusan dan dosen Astronomi ITB serta peneliti di Observatorium Bosscha.

BIMA Monitoring Project bertujuan mengumpulkan data hasil observasi optik bintang ganda gerhana. Objek dipilih dari daftar katalog bintang ganda gerhana yang sudah ada, lalu diamati selama jangka waktu tertentu. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan fotometri CCD, dengan menggunakan teleskop GAO-ITB Remote Telescope System di Observatorium Bosscha, teleskop Panchromatic Robotic Optical Monitoring and Polarimetry Telescopes di Cerro Tololo Inter-American Observatory dan teleskop di Thailand National Observatory. Dari pengamatan tersebut didapatkan kurva cahaya melalui teknik fotometri diferensial. Selanjutnya, ditentukan waktu minimum atau Time of Minimum (ToM) dan periode sistem melalui kurva cahaya tersebut dengan menggunakan Pyraf oleh tim BIMA.

BIMA Monitoring Project telah melakukan presentasi di berbagai konferensi baik di Indonesia maupun konferensi international. Saat ini, tim BIMA sedang mempersiapkan pengembangan metode untuk kalkulasi ToM, konferensi dan recruitment tim BIMA. BIMA Monitoring Project terbuka untuk mahasiswa astronomi ITB dan bisa dijadikan sebagai proyek Tugas Akhir Mahasiswa. (MH)

 
Kolokium "Apakah Alam Semesta Lahir dengan Inflasi?"
Monday, 28 April 2014 11:41

Kolokium:

Apakah Alam Semesta Lahir dengan Inflasi?

(Hasil dari Background Imaging of Cosmic Extragalactic Polarization, BICEP)

Presenter

Premana W. Premadi, Ph.D.

 

 

Jumat, 4 April lalu, kolokium kembali diadakan di ruang Seminar 2 Program Studi Astronomi. Kolokium oleh Dr. Premana W. Premadi ini berjudul Apakah Alam Semesta Lahir dengan Inflasi?

Model kosmologi Big Bang merupakan model yang dianggap sukses menjelaskan keadaan alam semesta yang teramati, dengan prinsip kosmologi, yaitu alam semesta homogen dan isotropik dalam skala besar. Meskipun demikian, masih ada masalah besar yang belum bisa terjawab.

Alam semesta dipercaya dimulai mengembang sejak big bang. Model dinamika alam semesta dapat dinyatakan dengan persamaan Friedmann. Laju pengembangan alam semesta bergantung kepada komponen alam semesta, waktu dan kurvatur (kelengkungan). Kurvatur dalam persamaan ini memberikan tiga kemungkinan geometri alam semesta: flat, terbuka dan tertutup. Dari persamaan Friedmann juga dapat digambarkan skema sistematis pengembangan alam semesta.

Sudah diketahui bahwa alam semesta dipenuhi dengan Cosmic Microwave Background (CMB). CMB merupakan salah satu bukti kuat ketepatan teori Big Bang. Pengamatan mengindikasikan bahwa daerah dengan kerapatan tinggi mengembang lebih lambat. Alam semesta tidak hanya mengembang, tetapi mengizinkan struktrur terbangun di dalamnya, seperti galaksi, bintang-bintang, dan gugus (cluster). Struktur ini terbangun karena fluktuasi densitas.

Meskipun model kosmologi standar “Big Bang” dapat dikatakan sukses menjelaskan dan sesuai dengan kondisi alam semesta yang teramati, namun model ini masih menyisakan masalah besar pada alam semesta dini. Ada dua masalah utama yang masih belum dapat dijelaskan oleh teori Big Bang, yaitu masalah datarnya (flatness) kurvatur alam semesta pada usia dini dan masalah sebaran temperatur di alam semesta. Jika kita tinjau dua titik yang berbeda di alam semesta, maka kita ketahui pada masa lalu kedua titik tersebut berada pada jarak yang jauh lebih dekat dibanding saat ini. Jarak antar titik tersebut kemudian semakin membesar seiring dengan pengembangan alam semesta. Hal ini kemudian menjadi masalah karena adanya ketidaksesuaian antara ukuran horizon pada masa lalu dengan jarak antar dua titik tersebut. Selain itu jika kita sekarang mengamati besarnya temperatur CMB di dua titik yang sangat berjauhan di alam semesta, kita akan mendapati angka yang sama. Kedua masalah inilah yang kemudia coba dijawab oleh mekanisme inflasi.

Mekanisme inflasi merupakan solusi ad hoc pada model standar untuk menjelaskan kedua masalah tersebut. Pada model ini dijelaskan terjadinya pengembangan alam semesta secara eksponensial dengan faktor eksponen sekitar 40 dan berlangsung pada waktu yang sangat singkat, yaitu sekitar 10-35 sampai 10-32 detik setelah Big Bang. Setelah terjadinya inflasi, alam semesta kemudian berevolusi sesuai dengan model standar.

Mekanisme inflasi dapat menjelaskan dengan cukup baik masalah-masalah pada alam semesta usia dini yang tidak dapat dijelaskan model standar. Namun mekanisme ini terbentur pada tidak adanya bukti observasi yang mendukung. Sampai akhirnya ditemukan petunjuk dari pengamatan BICEP pada Maret 2014 lalu. BICEP mengamati ukuran dan pola dari polarisasi mode B yang mengindikasikan adanya jejak gelombang gravitasi primordial yang disebabkan oleh mekanisme inflasi. Dengan adanya dukungan dari observasi BICEP ini, teori inflasi dapat semakin dikembangkan dan menjadi teori yang kokoh dalam menjelaskan evolusi pada alam semesta usia dini. (MH/DPT)

 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 1 of 23
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

Research Area


Astro Flash


 Latest News

JoomlaWatch Stats 1.2.5 by Matej Koval
feed-image Feed Entries