|
Kolokium akhir bulan Maret, Jumat (30/03) lalu terasa agak berbeda dari biasanya. Acara rutin KK Astronomi yang diadakan di Ruang Seminar 2 Program Studi Astronomi ITB tersebut kali itu mengundang pembicara dari Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Dr.-Ing. Ir. Widjaja Martokusumo, sebagai perwakilan dari Tim Perencana Space & Earth Science Centre Bosscha. Sayangnya, kolokium kali ini terbilang sepi jika dibandingkan dengan kolokium-kolokium sebelumnya.
Pembahasan kolokium kali ini adalah tentang perencanaan pembangunan Space & Earth Science Centre Bosscha. Pembangunan yang dimaksud bukanlah pembangunan dari awal, namun lebih seperti perombakan bangunan Propelat Bosscha, yang sudah terlantar 37 tahun lamanya.

Tanah pada bangunan Propelat pada awalnya adalah milik Pertamina, dan bangunan tersebut rencananya akan dijadikan hotel pada tahun 1974. Ketika itu, Observatorium Bosscha yang dikepalai oleh Bambang Hidayat, memprotes pembangunan hotel tersebut karena dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas pengamatan. Setelah pembangunan dihentikan, tahun 1978, tanah milik Pertamina dihibahkan untuk ITB dan kemudian menjadi bagian dari Observatorium Bosscha.
“Observatorium Bosscha tergolong dalam Objek Vital Nasional, tetapi malah banyak bangunan di dalamnya yang terkesan terlantar. Seperti tidak ada yang punya. Seperti tempat ‘uji nyali’.” Begitulah penggambaran Dr.-Ing. Ir. Widjaja Martokusumo terhadap keadaan kompleks Observatorium Bosscha dewasa ini.
Awalnya, di sana dibuat semacam hutan konservasi, dengan bangunan setengah jadi tetap yang tetap berdiri. Sekitar tahun 1980-an, telah ada wacana rencana pemanfaatan bangunan, namun terhenti karena banyaknya keributan dan gugatan mengenai tanah tersebut. Setelah tahun 2005 ITB dinyatakan sebagai pemilik sah tanah, barulah rencana pemanfaatan bangunan dihidupkan kembali.
Konsep yang dibawakan oleh Tim Perencana Space & Earth Science Centre Bosscha ini tampak lebih menitikberatkan interaksi bangunan dengan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari rencana penggunaan energi surya sebagai sumber listrik di malam hari, penampungan air hujan untuk water closet dan sprinkler, serta desain elemen lansekapnya sebagai penyerap cahaya. Karena sudah lima tahun lebih dibicarakan secara multi-disiplin, penggunaan bangunan tersebut juga tidak hanya melibatkan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang Astronomi saja. Sesuai namanya, di dalam bangunan ini juga akan dibuat enam laboratorium berbagai bidang yang berkaitan dengan sains kebumian dan angkasa luar.

Dalam proses perencanaan, sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dan uji kelayakan struktur bangunan yang akan dirombak. Uji kelayakan sangat diperlukan, mengingat usia normal suatu bangunan hanya 50 tahun, dan Propelat ini telah melewati setengahnya. Hasil pemeriksaan yang turut dilaporkan pada kolokium mengindikasikan struktur bangunan sudah tidak baik, bangunan berotasi, dan lendut. Hal ini akhirnya membuahkan dua catatan solusi di akhir pemaparan, yaitu pemanfaatan maksimal pada lantai dasar, dan re-desain dengan penyusutan 30% dari bangunan asli.
“Motivasi dari pembangunan ini,” lanjut beliau, menanggapi pertanyaan dari salah satu dosen Astronomi, Premana W. Premadi, Ph.D, “adalah untuk memberdayakan aset dan menghilangkan kesan terlantar. Dengan itu, kita dapat memberikan semacam proteksi terhadap kemungkinan intervensi pihak luar yang berniat mengganggu Observatorium Bosscha.”
Seperti rencana-rencana pembangunan lainnya, pembangunan Space & Earth Science Centre Bosscha ini terbentur juga pada masalah dana. “Setelah ada kepastian, mungkin bisa juga diadakan semacam joint seminar dengan bidang-bidang yang bahkan di luar sains kebumian dan angkasa luar untuk fiksasi. Semakin banyak komunitas yang bergabung, akan semakin bagus,” ujar beliau, mengakhiri pemaparannya dengan menimpali usul joint seminar dan pendukungan taktis.[hre] |